Sunday, November 8, 2009

Didik Diri Dengan Sunnah


Tidak diragukan lagi, masing-masing kita mendambakan terciptanya suasana kebahagiaan, kebersamaan, dan ketenteraman baik dalam urusan dunia maupun agama bahkan negara. Banyak usaha yang dilakukan tetapi nyatanya tidak menghasilkan apa yang diharapkan, sementara kita meyakini bahwa tidak ada satu kesulitan pun kecuali pasti ada jalan keluarnya. Allah berfirman :

"Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan." (QS Asy Syarhu / Alam Nasyrah: 6) "Dan barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah nescaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya." (QS Ath Thalaq: 4).

Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam juga bersabda dalam hadits Ibnu Abbas,
"Ketahuilah, bahwasanya kemenangan bersama kesabaran, kelapangan bersama kesempitan dan sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan."

Sudah saatnya untuk kita bercermin kepada segala upaya yang dikerahkan dalam membina kehidupan di keluarga, lingkungan, masyarakat, dan lebih luasnya lagi negara. Sudahkah kita jujur kepada Allah dan KitabNya, kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam dan Sunnahnya, dalam hal aqidah, akhlaq, ibadah, dan muamalah? Dimana hal ini adalah pintu masuk ruang kebahagiaan dan kebersamaan.

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam sebagai Nabi dan Rasul yang terakhir, tidaklah meninggalkan umatnya kecuali telah menerangkan apa yang diperlukankan mereka dalam membangun kehidupan menuju kebahagiaan dunia dan akhirat, inilah kesempurnaan agama.
Allah berfirman:

"Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah kucukupkan kepadamu nikmatku dan telah kuridhai Islam itu jadi agama bagimu." (QS Al Maaidah: 3).

Allah juga berfirman:

"Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Qur'an) untuk menjelaskan segala sesuatu."
(QS An Nahl: 89)
.

Dalam hadits yang diriwayatkan Abu Daud, Tirmidzi, Ahmad, dan Ibnu Majah, serta Ad Darimy dari sahabat Abu Najih Al Irbadh bin Sariyah berkata,

"Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam telah memberi nasehat kepada kami dengan satu nasehat yang menggetarkan hati dan mencucurkan air mata. Maka kami bertanya, 'Wahai Rasulullah! Seakan-akan nasehat ini adalah nasehat yang terakhir maka berilah kami wasiat.' Nabi bersabda, 'Aku wasiatkan padamu agar tetap bertaqwa kepada Allah, serta tetap mendengar perintah dan taat, walaupun yang memerintah kamu itu seorang budak, maka sesungguhnya orang yang masih hidup di antaramu nanti akan melihat perselisihan yang banyak, maka wajib atasmu memegang teguh akan Sunnahku dan perjalanan para khulafa ar rosyidin yang diberi petunjuk, peganglah olehmu sunnah-sunnah itu dengan kuat dan jauhilah olehmu bid'ah, sesungguhnya segala bid'ah itu sesat."

Sungguh Rasulullah telah memberikan nasihat yang agung dan wasiat yang sempurna ini kepada umat Islam dimana beliau beliau menunjukkan mereka kepada perkara-perkara yang besar, tidak akan tegak urusan agama dan dunia kecuali dengan komitmen terhadapnya dan mengikutinya. Tidak ada jalan keluar dari problematika kehidupan kecuali dengan mengamalkannya dengan seksama di zaman yang dipenuhi dengan tipu daya, dibenarkannya para pendusta dan didustakannya orang-orang yang jujur, serta dipercayanya para pengkhianat dan dikhianatinya orang-orang terpercaya.

Sungguh sangat dikesalkan tatkala terlihat majoriti umat Islam sudah tidak bersandar lagi kepada Al Qur'an tidak pula kepada Sunnah dalam aqidahnya, di saat semaraknya orang-orang yang berhati syaitan dan bertubuh manusia serta memuncaknya kebid'ahan-kebid'ahan, wallahul musta'an. Adapun wasiat-wasiat yang disampaikan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam itu ialah:

Pertama: tidak ada dien kecuali dengan taqwa yaitu taat kepada Allah, melaksanakan perintah-perintahNya dan menjauhi laranganNya. Taqwa adalah sebab dipermudahnya segala urusan dien dan dunia serta dibukanya berkah dari langit dan bumi. Allah berfirman:

"Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi."
(QS Al A'raaf: 96).


Kedua: Tidak akan tegak urusan-urusan umat baik dunia maupun dien kecuali dengan pemimpin yang sholeh, adil, menuntun mereka kepada Kitab dan Sunnah Rasulullah, menerapkan di tengah-tengah mereka syariat Allah, mengatur barisannya dan menyatukan kalimatnya serta mengangkat bagi mereka bendera jihad untuk meninggikan kalimat Allah. Sedangkan atas umat agar menerima dengan penuh taat baik dalam hal yang disukai maupun dibenci, selama pemimpin itu istiqomah di atas perintah Allah dan menjalankan hukum-hukumNya.

Demi merealisasikan kemaslahatan Islam dan kaum muslimin, menjaga kesatuannya dan melindungi darah-darahnya. Islam mewajibkan taat dalam hal yang ma'ruf (baik) atas umat terhadap waliyul amri / pemerintah sekalipun mereka bermaksiat, selama kemaksiatannya tidak sampai pada kekafiran.

Ketiga: Wasiat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam mencakup sikap yang harus dilakukan umat dari perselisihan dan terhadap orang yang menyelisihi Al Haq, beliau menunjuk agar berpegang teguh dengan Al Haq dan kembali kepada manhaj yang benar, manhaj Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam dan para khulafa ar rosyidin RA. Tidaklah Sunnah dan manhaj mereka kecuali Kitabullah -yang tidak pernah didatangi kebatilan dari arah depan maupun belakang- serta Sunnah Rasulullah yang suci. Allah berfirman:

"Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridho kepada mereka dan mereka pun ridho kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar."
(QS At Taubah: 100).

Inilah jalan keluar yang benar yang dapat menghentikan perselisihan dengan cara yang diredhai Allah.

Keempat: Wasiat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam juga meliputi peringatan terhadap bid'ah, sangat sering beliau memperingatkan umatnya dari bahaya dan kerosakan yang ditimbulkannya dengan penjelasan yang masaalah bahwa bid'ah adalah kesesatan.
Demikianlah kita mesti memulai untuk menyedarkan dan mendidik setiap diri-diri kita agar kembali kepada wasiat Allah dan RasulNya, kembali kepada konsep hidup nabawi, bersungguh-sungguh untuk menegakkan ibadah kepada Allah dan membuktikannya, sehingga akan terciptalah kebaikan dalam diri kita, dalam diri isteri-isteri kita, dan dalam keluarga kita.

Ketahuilah bahwa:

baiknya diri adalah baiknya keluarga
baiknya keluarga adalah baiknya masyarakat baiknya masyarakat adalah baiknya lingkungan baiknya lingkungan adalah baiknya negara baiknya negara adalah baiknya umat baiknya umat adalah baiknya alam secara keseluruhan bi idznillah.
Wal ilmu indalllah.

Baca Selanjutnya......

Saturday, September 26, 2009

Pautan Ukhuwwah Dalam Ramadhan


ROW (Ramadhan On Wheel) dan qiyamullail yang di adakan pada kemuncak Ramadhan cukup bermakna bagi kami warga PUSAT PENDIDIKAN ASYAKIR. Walaupun program hanya dua hari tapi cukup memberikan kesan positif.

Program yang memberatkan ukhuwwah antara warga muslim sudah seharusnya sentiasa di adakan tidak hanya sekadar Ramadhan, bahkan di bulan-bulan yang lain. Bermulanya dengan ROW yang berkonsepkan bantuan terhadap orang-orang yang tidak berkemampuan telah membuka minda kepada mereka bahawa mereka bukanlah hidup dalam warna yang satu.

Menitik UKHUWWAH dalam kehidupan sehari-hari bukanlah mudah. Ia mudah datang dan mudah juga pergi. Perlu sentiasa di siram dengan ziarah dan mengambil berat antara satu sama lain dengan cara yang berbagai berasaskan dasar-dasar Islam.

Apa yang sangat menarik bagi saya pada program kali ini adalah peserta non muslim yang berminat dengan program kami bersama-sama menyertai bermula dari ROW hinggalah berakhir dengan QIYAMULLAIL di Masjid Wak Tanjung. Semoga Allah memberikan dia hidayah dan petunjuknya insya Allah.

Edwin & Ust. Sirajjudin
Semoga Allah menyatukan dalam keimanan yang sama
..

Baca Selanjutnya......

Tuesday, September 22, 2009





Baca Selanjutnya......

Wednesday, September 16, 2009

Tradisi Yang Membinasakan


Akhbar hari ini sekali lagi memaparkan kisah seorang remaja di Alor Setar Kedah yang hampir kehilangan tangan akibat bermain mercun. Lebih menyedihkan lagi seorang kanak-kanak darjah 2 meninggal dunia di Ulu Tiram Johor Bahru akibat bermain benda yang sama.

Tradisi menyambut raya dengan bermain mercun dikalangan kanak-kanak dan dewasa sudah menjadi biasa di kalangan masyarakat Islam Malaysia setiap kali menjelangnya Aidilfitri. Walaupun saban hari ia telah diharamkan oleh kerajaan Malaysia, masih saja ada yang masih menjual dan membeli. Pihak berkuasa terus mengeluarkan amaran tetapi ancaman itu hanya sekadar ancaman dan kelihatannya tidak memberikan kesan bagi mana-mana pihak.

Buktinya setiap menjelang Aidilfitri akan terpapar insiden-insiden mercun yang menimpa baik kanak-kanak dan remaja.

Salah Siapa?

Persoalannya mengapa kejadian sebegini terus berlaku? Adakah kesalahan terletak kepada kerajaan yang kurang membuat operasi? Atau ibubapa yang kurang prihatin?

"Takpelah, biarlah budak-budak tu nak main..kan setahun hanya sekali je"

Terdengar saya alasan seorang ibu untuk membiarkan anak-anaknya bermain.
Inilah hakikat yang terjadi di kalangan umat Islam Malaysia. "Mentality" orang Islam di Malaysia amat sukar untuk diubah.

Kesalahan terletak pada semua orang baik yang menjual, membeli, yang bermain, yang mengetahui@terdengar bunyi letupan mercun. Kerana mencegah kemunkaran adalah tanggungjawab semua umat Islam. Tidak cukup hanya dengan amaran oleh pihak berkuasa dan polis sahaja untuk mencegah.

Hukum Bermain Mercun

Jelas saya katakan disini hukum bermain mercun boleh dihukumkan sebagai haram berdasar fakta-fakta berikut :

1. Pembaziran Wang

Kenapa perlu berhabisan wang jika hanya sekadar unutk membakarnya. Munkin ada beralasan

"saya tidak membeli, orang yang kasi" atau "alaa harganya bukan mahalpun, cuma 2 ringgit je".

Hakikatnya adalah sama, darjat mercun tidak akan naik kecuali ada yang bermain@meraikan dan memberikan sokongan dengan apa cara sekalipun. Walhal, banyak saudara-saudara kita yang hidup dalam serba kekurangan, untuk membeli sekilo beras sahaja tidak mampu. Kita dengan gembiranya membakar duit-duit yang sepatutnya dimanfaatkan tanpa merasa bersalah sedikitpun.

2. Menganggu Ketenteraman Awam

Rasulullah bersabda :

"Jangan mendatangkan mudarat kepada orang lain dan saling mendatangkan mudarat antara satu sama lain"

Jika kita bertanya kepada orang yang ada disekeliling adakah anda suka dengan bunyi dentuman mercun? Pasti mereka mengatakan tidak suka. Begitu juga dengan ibu bapa yang membelikan dan merelakan anak-anak mereka bermain, biasanya akan menyuruh anak-anak mereka bermain jauh dari rumah dan tidak meletupkan di kawasan rumah supaya mereka merasa tidak terganggu. Tapi bagaimana pula dengan orang-orang lain dikawasan lain. Biasanya orang yang bermain mercun bertujuan supaya orang lain mendengar letupan tersebut. Jarang sekali ada yang bermain di daerah hutan-hutan.

Mengganggu jiran dengan meninggikan tembok rumah sendiri sahaja ditegah oleh Rasulullah khuatir mereka akan terganggu, apatah lagi dengan bunyi yang memang sudah sangat jelas mengganggu. Seperti di dalam sabda beliau :

"Dan jangan meninggikan binaan sehingga menghalang angin ke rumahnya (jiran kamu)"

3. Membahayakan Diri


Allah berfirman :

"Dan janganlah kamu mencampakkan diri kamu kedalam kebinasaan"

Mengapa setiap kali mercun dibakar si pembakar tersebut akan lari dan menjauhkan diri? Sudah pasti kerana mereka tahu BAHAWA MERCUN BOLEH MEMBAHAYA DIRI mereka. Tapi kerana nafsu syaitan yang ada dalam diri akhir mereka melupakan buat sementara waktu. Sebab arak dan rokok di haramkan kerana boleh membahaya kesihatan dan diri mereka. Maka begitu juga dengan mercun boleh diqiaskan dengan perkara tersebut.

Sememangnya tidak ada dalil tertuju kepada mercun tersebut. Tapi kita sebagai manusia telah dikuniakan akal untuk berfikir, ditambah lagi Kitab panduan yang serba lengkap untuk menjadi panduan dalam hidup kita iaitu Al Qur'an dan As Sunnah.

Jangan kita cemari malam ramadhan dengan bermaksiat kepada Allah. Bukalah minda kita dan jangan tertipu dengan agenda-agenda kaum kafir dan jangan jerumuskan diri dan keluarga dalam kebinasaan. Wallu'alam.

Baca Selanjutnya......

Tuesday, September 1, 2009

Ramadhan Bukan Hanya Waktu Menahan


" Ustaz, kalau kita bepengangan tangan dengan 'mata air' kita batal tak puasa?"

Teringat saya ketika salah seorang pelajar lelaki tsanawi 4 bertanyakan soalan tersebut pada bulan Ramadhan tahun lalu. Pada tahun ini seorang pelajar perempuan pula bertanya pertanyaan yang sama.

Saya terfikir kenapa soalan boleh terkeluar dari mulut-mulut mereka?? Pertama, munkin kita dapat memberikan sedikit kesimpulan bahawa sudah terdapat sedikit kesadaran di kalangan remaja-remaja kita tentang sensitivity pada bulan yang mulia ini.

Yang kedua pula, terdapat satu persepsi dikalangan mereka khususnya dan masyarakat secara amnya bahawa bulan Ramdhan ini hanyalah suatu masa yang tercipta hanya untuk MENAHAN diri dari melakukan perkara-perkara yang di tegah di dalam syariat Islam. Maka itu tidak hairan jika di sebahagian daerah dan bahkan sebahagian negara memberhentikan "KEGIATAN MAKSIAT" mereka seperti disko dan rumah-rumah pelacuran pada bulan suci dan akhirnya menyambungnya kembali tatkala bulan Ramdhan selesai.

Akankah golongan yang sebegini termasuk dalam kategori yang Rasulullah sebutkan dalan hadis yang bermaksud:
"Berapa banyak orang-orang yang berpuasa tetapi tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga sahaja"

Akibatnya, masyarakat umum banyak menyangka khususnya bagi mereka jahil bahawa Ramadhan ini hanyalah waktu MENAHAN DIRI dari melakukan perkara-perkara yang di tegah oleh agama dan bukan waktu MERUBAH DIRI. Walhal agama Islam bukan lah bersifat sementara dan sebahagian sahaja, bahkan agama ini bersifat kekal dan menyeluruh.

Perlu diketahui bahawa diterima oleh Allah Ibadah seseorang itu bukan hanya terletak pada bagaimana dia beribadah tetapi juga terletak kepada kelurusan, perubahan dan konsisten dalam melakukan ibadah tersebut. Wallahu'allam


Baca Selanjutnya......

Saturday, August 22, 2009

Alhamdulillah Atas Nikmat Yang Diberi



Alhamdulillah..

"Sempat aku bertemu dengan ramadhan kali ini"...

Detik hati ini, dengan setitis harapan moga aku terus dapat meningkat diri dalam aspek yang ku mampu. Tidak lain dan tidak bukan hanya untuk MEMBERI khidmat yang lebih baik untuk diri, keluarga dan masyarakat.

Minggu-minggu dan bulan yang telah lalu telah banyak membawa erti kepadaku. Beberapa program yang telah kulalui sedikit sebanyak telah memberiku ilmu dan pedoman baru tentang HIDUP ini.

Walaupun hakikatnya tahun ini agak berbeza dengan tahun-tahunku yang lain. Biasa aktiviti-aktiviti yang aku ikuti lebih berteraskan DINIYYAH, daurah dan sebagainya tapi tahun ini agak berbeza. Program pembangunan dan pengurusan kejurulatihan menjadi pilihan utamaku. Bukan berarti sudah bosan dengan yang LAMA, tetapi hanya MEMPERBAGAI kemampuan dan pengetahuan am dalam diri.

Ribuan kemaafan kepada sahabat-sahabatku yang memberikan maklumat berkenaan program-program DIHIYYAH sepanjang bulan-bulan ini da ribuan terima kasih juga kerana sudi memberikan information tersebut kepada ku.

Baca Selanjutnya......

Friday, May 22, 2009

Pendidikan Itu Tidak Hanya Sekolah

Pergaduhan dan buli dikalangan pelajar acap kali melanda masyarakat, bahkan di kalangan mahasiswa sekali sering terdengar terlibat dalam gejala yang sebegini. Belum menyentuh masalah lain lagi seperti cabut dari sekolah, terlibat dengan dadah, sex dan sebagainya.


Hari-hari yang sekarang ini memang seakan tiada lagi berita itu akibat tertelan dengan warta politik yang berpanjangan. Walau munkin jika terus ditelusuri lebih jauh fenomena tersebut masih terjadi.

Kenyataan pahit tersebut lebih mencerminkan rendahnya akhlak, moral dan sifat-sifat yang positif lainnya. Keadaan lebih parah lagi apabila ditambah dengan nuansa huru-hara kesenangan yang pada asalnya hanyalah fantasi semata-mata. Kemerosotan dalam moral ini ternyata bukan hanya berlaku pada negeri sendiri bahkan di negara-negara jiran juga hingga ke pelusuk negara yang lainnya.

Hal ini menimbulkan beribu tanda tanya terhadap sejauh mana keberkesanan pendidikan dengan teknologi tinggi dan teori-teori yang menggunung. Adakah pendidikan sekolah tidak mampu menghasilkan generasi yang baik ? Baik moral atau akademiknya.

Siapa Yang Bertanggungjawab

Membedah permasalahan ini memang tidak mudah apalagi ditujukan kepada perbaikan kepada benda yang telah lama rosak. Pendidikan pada asalnya sangat berkait rapat dengan faktor luaran lainnya seperti sosial, ekonomi dan juga politik. Secara global memang pemerintahan adalah institusi pendidikan yang utama perlu menitikkan muhasabah diri. Dan kita pula sebagai rakyat juga perlu mengambil peranan masing-masing demi kemajuan pendidikan anak-anak kita amnya. Individu-individu tersebut adalah kunci keberhasilan pendidikan suatu generasi berikutnya. Ketika individu suatu masyarakat itu rosak, maka tidak hairan generasi yang berikutnya akan ikut sama rosak.

Hal yang perlu disedari bahawa setiap individu pendidik bahawa mereka harus sangat peka dengan keadaan di sekelilingnya, bukan hanya di sekolah sahaja. Bahkan radio yang di dengar, tv yang di tonton, hp yang di genggam, buku-buku dan majalah yang di baca, itu semua perlu ada penilaian dari seorang pendidik. Kerana elemen-elemen itu adalah salah satu sarana pendidikan zaman modern ini. Maka apapun yang ditampilkan harus sentiasa dicermati, difikirkan supaya sentiasa menghasilkan implikasi yang positif dan baik.

Maka dari itu setiap individu yang bergelar pendidik baik guru itu sendiri, ibubapa, abang atau kakak hendaklah sentiasa memperhatikan dirinya. Jangan hanya sekolah yang di harapkan, kerana sekolah itu pada hakikatnya adalah perkara yang kedua dan ketiga selepas keluarga. Berusaha untuk mewujudkan pemeliharaan keluarga dari sudut pendidikan adalah perkara yang perlu di utamakan dahulu. Allah berfirman :

"Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu"
(At Tahrim : 6)
Baca Selanjutnya......